CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Gedung_De_Javasche_Bank_dalam_Rentang_Sejarah_
Cagak Utama

Gedung De Javasche Bank dalam Rentang Sejarah

Penulis : Yusfa Hendra Bahar, SS - Koordinator Pokja Pengembangan dan Pemanfaatan, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat   

Kota Padang menyimpan banyak potensi akan bangunan bersejarah. Bangunan-bangunan tua atau bangunan bersejarah tersebut tersebar di kawasan Kotatua Padang salahsatunya di Jalan Batang Arau. Salah satu bangunan tua yang memiliki sejarah dan terkait dengan perkembangan kota padang adalah Bangunan Museum Bank Indonesia.

Museum Bank Indonesia terletak di Jalan Batang Arau Nomor 60, Kelurahan Berok Nipah, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat atau depan jembatan Siti Nurbaya. Bangunan ini telah masuk dalam daftar Inventaris Cagar Budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau dengan nomor inventaris 38/BCB-TB/A/01/2007 dan sudah ditetapkan sebagai bersejarah oleh Walikotamadya Padang tahun 1998 berdasarkan Surat Keputusan Walikota Padang Nomor 03 tahun 1998, tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya dan Kawasan Bersejarah di Kota Padang.

Selain itu bangunan ini juga telah ditetapkan sebagai objek Cagar Budaya melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. 54/PW.007/MKP/2010 tanggal 22 Juni 2010.

Sejarah Singkat

Gedung De Javasche Bank atau Bank Indonesia yang berada di Kota Padang ini merupakan cabang yang ketiga setelah Surabaya dan Semarang dan pertama di luar Jawa. Selain di Kota Padang, De Javasche Bank tersebar di 12 kota penting Indonesia pada zaman Kolonial Belanda, yaitu: Banda Aceh, Medan, Bandung, Cirebon, Jakarta, Solo, Malang, Kediri, Surabaya, Yogyakarta, Manado, dan Pontianak. Gedung ini dibuka pertama kali pada 29 Agustus 1864 dengan direktur pertamanya bernama A.W. Verkouteren. 

Pada tahun 1912, De Javasche Bank berencana membangun gedung baru di dekat Pelabuhan Muara. Akan tetapi, karena kendala perizinan, pembangunannya baru terealisasi pada tahun 1921. Pada waktu itu, kawasan Muara direncanakan menjadi areal pelabuhan, sehingga bangunan-bangunan yang tidak terkait dengan pengembangan pelabuhan laut sulit mendapatkan izin.

Baru akhirnya pada 31 Maret 1921, pembangunan gedung De Javasche Bank yang baru mulai dilakukan. Pembangunan bangunan ini dikerjakan oleh kontraktor Hulswitt-Fermont-Cuypers Architechten & Engineeren Beureau dari Batavia.

Pada tahun 1925, gedung baru De Javasche Bank mulai difungsikan. Pada saat itu Gubernur De Javashce Bank dijabat oleh Mr. L.J.A Trip. Pada 1 Juli 1953, menyusul kemerdekaan Indonesia, fungsi dan operasi De Javasche Bank di seluruh Indonesia diambil alih oleh Bank Indonesia (BI). BI menggunakan gedung ini untuk operasionalnya sampai tahun 1977. 

Deskripsi Arkeologis

Bangunan Eks Bank Indonesia yang terdiri dari 2 lantai ini bergaya arsitektur modern (tropis) Indonesia ini menonjol dengan bagian puncak atapnya yang menyerupai atap mesjid. Atap berbentuk limas an dengan di bagian puncak terdapat kubah. Atapnya terbuat dari genteng. Pintu masuk berada di tengah yang menghadap ke timur. Sekeliling dinding bangunan terdapat jendela kaca yang diberi jerugi besi, jendela dibuat ramping dan tinggi. Di bagian muka terdapat sembilan buah jendela, di bagian samping masing-masing terdapat empat buah jendela yang sama. Bangunan ini berdenah segi empat.  Di bagian muka, bagian tengah agak menjorok ke luar. 

Arsitektur bangunan ini sedikit mengambil gaya rumah pendopo Jawa. Pintu-pintunya dibuat lebar dan tinggi bergaya Eropa. Bangunan Gedung De Javasche Bank secara keseluruhan mempunyai luas bangunan 22.75 x 19.5 m (443,625 m²).

Bangunan Museum Bank Indonesia Padang ini telah mengalami renovasi pada tahun 2009. Renovasi yang dilakukan pada dasarnya tidak mengubah bentuk dari bangunan Eks Bank Indonesia. Namun mengembalikan bentuk atau desain dari bangunan ini ke bentuk semula. Sekarang bangunan ini oleh pihak Bank Indonesia Cabang Padang dijadikan sebagai museum, dan kantor Bank Indonesia Cabang Padang ke Jalan Sudirman, Padang.

Di depan Gedung Bank Indonesia, sebelum pembangunan jembatan Siti Nurbaya, terdapat sebuah monumen berupa tugu kecil yang dibangun untuk mengenang Ir. Willem Hendrik de Greve, ahli pertambangan Belanda yang mati hanyut ketika melakukan penelitian di Batang Kuantan pada tahun 1872. (*)

 

Konsultasi

Mekanisme Penyelesaian Sengketa Tanah Ulayat

Penulis : Miko Kamal, SH, LL.M, PhD

Assalamualaikum, pengasuh rubrik hukum yang saya hormati. Kaum kami mempunyai tanah ulayat ya

Hiburan

Junior Liem-Putri Titian: Mood Roller Coaster

Penulis : JPNN

Kabar bahagia datang dari pasangan artis Junior Liem, 31, dan Putri Titian, 25. Pasangan yang men

Tanah Tanpa Pelita

Penulis : Oleh: Fitra Wahyudi Derita menelantarkan tawa Tak sudah memaksa mereka bekerja Sebelum
Remaja

Ratu Nyontek

Penulis : Riyan Prasetio

T”Driii...” bisik Reina dari belakang.

”Apaan sih Rei?” ujar Adri

Ceria

Sinar Cahaya

Penulis : Mega Okta Enggalani

Menyapa fajar pagi hari di Bumi Bagonjong ini sudah biasa dia lakukan setiap paginya. Lain h

Ditantang Tingkatkan Kreativitas

Penulis : Genta Andalas Adakan Musyawarah Besar 2016 Mengusung tema ‘Satu Mufakat untuk Se
Kampus

Mengaji Hindari Paham Radikal

Penulis : Genta Andalas

Kampus Nusantara Mengaji Serentak se-Indonesia

Menteri Riset, Teknologi