Cagak Utama

Ali Sukri Kokohkan Panggung dengan Akar Tradisi

Tahun ini akan Tur Eropa Timur dan Mengajar di Hawai 

Sebagaimana seni sastra, yang tak pernah berhenti melahirkan sastrawan-sastrawan bagus pada setiap generasinya, dunia tari Sumbar juga selalu melahirkan koreografer yang selalu diperhitungkan di tanah air. Salah satunya untuk saat ini adalah Ali Sukri.

Katika itu siang cukup lindap pada Senin (2/1). Di sebuah coffee shop di Jalan Olo Ladang, Padang, koreografer kelahiran 28 Oktober 1978 itu memesan secangkir cappuccino. Dia memenuhi undangan Padang Ekspres untuk sebuah sesi wawancara mengenai perjalanan karir dan proses kreatifnya di dunia tari kontemporer Indonesia.

Sebagai seorang koreografer dan pimpinan Sukri Dance Theatre, paling tidak nama Ali Sukri mulai mencuat dalam satu dasawarsa terakhir. Karya-karyanya tampil di berbagai panggung dan iven bergengsi nasional maupun internasional. Dia pun sering mendapat hibah seni dari pemerintah maupun lembaga kesenian nonpemerintah. Tak sampai di situ, beberepa pagelaran tunggal dan kolaborasi dengan koreografer dari beberapa negara cukup sering dijalaninya di berbagai panggung bergengsi.

Sekadar menyebutkan, beberapa di antaranya adalah di Pasar Tari Kontemporer (Pastakom) V dalam Forum Nasional di Teater Arena Taman Budaya Pekanbaru (2005-2006), Forum Pesta Gendang Malaka Malaysia (2011), Festival Indonesia di Yoyogi Park Tokyo Jepang (2011), Muhibah Seni di TUF Tokyo Universiti of Foreig Jepang (2011), Muhibah Seni di Utrech Belanda (2013), American Dance Fesstival di Durham Amerika  Utara (2014), Indonesian Dance Festival di Salihara Jakarta (2014), kolaborasi Ali Sukri dan Osman dalam Forum Badai Berdamai di Gedung Goodman Centre Singapura (2015), dan Hibah Seni Kelola (2015).

Tahun lalu, dengan karyanya Tonggak Raso, Ali Sukri menggelar tur empat kota dengan EkoSupriyanto (EkosDance Company-Solo, Jawa Tengah) yang menampilkan karyanya dengan judul tra.jec.to.ry. Pementasan digelar di Padangpanjang, Solo, Kudus, dan Bandung. Desember lalu, dia juga mementaskan karya terbarunya Tanar Air Mata saat perayaan Dies Natalis ISI Padangpanjang.

Meski berkarya dalam dunia tari kontemporer, anak dari pasangan Abuzanar dan Noroma ini, selalu berangkat dari akar budayanya. Yakni silek (silat).
Gerak-gerak dalam tarinya selalu berlandaskan pada silek-silek yang ada di Minangkabau. Seperti ulu ambek, kumango, silek lanyah dan sejumlah silek tuo lainnya. Meski berangkat dari silat, bukan berarti Sukri menelan mentah-mentah setiap gerak silat tersebut. 

Dengan latar belakangnya sebagai seorang akademisi di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, dia terlebih dahulu melakukan riset untuk menggali akar atau roh dari gerak silat yang akan dipakai dalam karyanya. Dengan roh itu lah dia merespons isu-isu atau persoalan-persoalan kekinian yang ada di tengah-tengah masyarakatnya untuk kemudian wujud dalam gerak-gerak yang baru dan orisinil dalam setiap karyanya.

“Dalam berkarya, saya melakukan riset terhadap sejumlah silek di Minangkabau. Saya ambil beberapa motif lalu dikembangkan ke dalam bentuk garapan yang tidak meninggalkan tradisi dan bentuk silat itu sendiri. Bagaimana pun jika orang menyangka itu silat tapi rasa silatnya sudah berbeda,” kata Ali Sukri.

Silat sebagai salah satu kebudayaan di tempat dia tumbuh, jadi sesuatu yang penting dalam proses kreatif Sukri. Dalam gerak tari yang diciptanya, kekuatan pondasi penarinya berdasarkan silat.

Bagi suami dari Merita Yanita ini, sehebat apapun gerakan-gekaran pada sebuah karya tari, kalau akar tradisi tidak kuat di dalamnya, dia akan jadi gerakan-gerakan yang kosong. “Jika akar kita lebih kuat, di atas panggung dia akan tampak lebih kokoh. makanya silat itu saya pertahankan terus,” ucapnya.

Silek Dulu Baru Tari

Jauh sebelum menyelami dunia tari kontemporer, magister dari ISI Surakarta ini sudah kenal lebih dahulu dengan silat. Pasalnya, ayahnya seorang guru silek di kampungnya di Padangpariaman. Ketika masih kanak, setiap malam usai mengaji di Surau dia pun latihan silek.

Nah, bila pada akhirnya hingga kini Ali Sukri menekuni seni tari, tak lepas pula dari orangtuanya. Sebab orangtuanya lah yang mendorong dia memperdalam ilmu tari lewat bangku sekolah. Tahun 1994, dia masuk ke SMKI Padang (kini SMK 7 Padang).

Setahun setelah tamat SMKI, ayah dari Maulidya Mavaza Yanali ini menyambung pendidikannya ke ISI Padangpanjang. Namun sebelumnya dia sempat tak ingin menyambung pendidikannya ke bangku kuliah. Tapi orangtuanya bersikeras. Sukri harus kuliah. Sebab, sebagai seorang guru, orangtuanya tak ingin Sukri hanya sekadar tamat SMA sederajat. Maka secara diam-diam dia didaftarkan ke ISI Padangpanjang (dulu STSI Padangpanjang) dan akhirnya kuliah dan tamat di sana.

Selain dorongan orangtua, ketertarikan Ali Sukri pada tari karena saat menari dia bisa merasa senang, dan mencurahkan isi hatinya. Lewat tari dia merasa bisa menceritakan kalau tari itu bisa menjadi sebuah puisi, gerak itu bisa bermakna, bisa berbicara. 

“Tari itu indah. Ketika ada permasalahan dicurahkan ke gerakan di lepaskan semua ke gerak. Hinggal lelah, lalu tertidur dan lupa semua. Menari sebagai obat. kalau kurang bergerak, rasanya ada yang sakit,” tuturnya.

Dari Company ke Theatre

Sebelum membentuk grup tari sendiri pada tahun 1999 dengan nama, Sukri Dance Company, dia sempat bergabung dan memperdalam ilmu di sejumlah grup tari yang telah dulu berdiri. Di antaranya grup Satampang Baniah Padang pimpinan Sulastri Andras (1996-1998), grup tari Nan Jombang pimpinan Eri Mefri (1995-1998), dan grup Galang Padang pimpinan Deslenda (1994).

Setelah itu pun dia kerap menjadi penari di sejumlah grup kesenian lainnya. Seperti bergabung dengan Wayang Suket pimpinan Slamet Gundono (2007 -2008), grup tari Gumarang Sakti Jakarta pimpinan Boy G Sakti (2003), grup tari Taratak Padangpanjang, pimpinan Tom Ibnur (2002-2004).

Hanya berselang empat tahun dari berdirinya Sukri Dance Company, dia merubah nama grupnya menjadi Sukri Dance Theatre. Tepatnya pada 15 Desember 2003. Perubahan ini bukan tanpa alasan. Sebab dalam perjalanan proses kreatifnya, dia memilih estetika yang cenderung bersifat kolaboratif.

Menurut Sukri, pada perkembangan kreatif karya-karya yang dilahirkannya memiliki kecenderungan lebih berkembang dengan melakukan berbagai macam eksplorasi, studi, dan riset. Selain itu, orang-orang yang ikut mendukung dan terlibat secara langsung maupun tak langsung dalam proses kreatifnya dan kelompoknya, melakukan pengembangan dalam bentuk; gerak tari, isu pertunjukan dan memadukan unsur seni lainnya secara seimbang dalam karya-karya yang dilahirkan. 

Dia dan grupnya ini didukung oleh beberapa pencinta, pemerhati, dan kreator tari, yang berangkat dari bidang seni lainnya. Bahkan ada yang dari sastrawan dan kritikus seni. Sukri Dance Theatre membuka peluang pada semua seniman untuk berkesenian. Pertunjukan Sukri Dance Theatre menampilkan karya-karya bersifat kekinian, mengangkat persoalan-persoalan, dan konsep yang aktual dan kontekstual. Namun tetap mengangkat budaya lokal khususnya budaya Minangkabau.

“Dengan ini, saya ingin membuka diri terhadap kesenian lainnya. Saya ingin gerak dalam tari saya tidak hanya indah tapi jadi hidup menyesuaikan konsep garapan yang sudah punya makna,” jelasnya.

Kenapa dance theatre? “Karena dance theatre merupakan tarian yang lebih hidup yang lebih bernyawa. Gerak-geraknya tidak hanya gerak murni, tapi bagaimana gerak itu juga bisa berdialog dengan orang lain. Tubuh juga punya kalimat. Tubuh kita juga bisa bercerita,” terangnya. 

Eropa Timur di Akhir Tahun

Untuk tahun ini, Ali Sukri sudah memiliki sejumlah agenda. Dengan ilmuwan dan kritikus tari Indonesia, Sal Murgiyanto, dia akan mengajar, memberi workshop di Hawaii. Pada kesempatan itu dia juga akan menari tunggal. Rencananya sekitar Juli atau Agustus.

Pada Agustus itu juga, dia diundang menjadi mentor KoreoLab di Bandung. Di sana, sejumlah penari dari Asia diundang untuk berkarya, dengan Ali Sukri sebagai salah satu mentornya.

Kemudian, pada Desember mendatang, bersama Eko Prasetyo dia juga akan menjalan tur Eropa Timur. Ada sekitar empat atau lima negara yang bakal disinggahinya. Tapi di mana negaranya hingga kini belum ditentukan. Ke Eropa Timur, Sukri masih akan membawa karyanya Tonggak Raso.

“Akan ada perubahan dari yang sebelumnya (pada karya Tonggak Rasa). Yang mendasar, saya akan coba memperkuat karakter tubuh penari,” ungkapnya.
Meski telah melanglang buana ke berbagai belahan dunia, tak membuat Sukri berpuas diri. Seseorang penari atau koreografer, katanya, sampai mati harus menari.

Di sisi lain, sebagai seorang dosen, selain menghasilkan karya-karya yang baik, dia juga ingin menciptakan generasi-generasi penerus yang akan mengembangkan seni tari pada hari depan. Baik sebagai penari atau koreografer. “Itu tanggung jawab moral saya sebagai pendidik,” tukasnya. (*)

Kampus

UNP Selenggarakan Wisuda Tunggal

Universitas Negeri Padang (UNP) akan melaksanakan wisuda tunggal untuk periode wisuda ke-108. Wis

Konsultasi

Insomnia dalam Kehamilan

Assalamualaikum dokter Dovy. Akhir-akhir ini saya susah tidur dan  saat ini saya se

Beberapa Faktor Distorsi

Dalam mengamati apakah kebudayaan Indonesia telah atau sedang mengalami distorsi secara khusus dapat
Kampus

Bangun Etos Kerja Sejak Dini

Festival Kebudayaan Jepang (Bunkasai) XIII Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand yang di

Cagak Utama

Bahasa, Branded dan Pasar Global

Bahasa branded, dan pasar global (global market). Tiga istilah yang cu

Remaja

Peni Ingin ke Kebun Binatang

”Aku belum pernah ke kebun binatang,” ujarnya lirih, aku terbahak dan kemudian terdia

Jalin Silaturahmi HIMAFI Adakan Rakornas dan Muswil

Himpunan Mahasiswa Fisika (Himafi) Unand terpilih sebagai tuan rumah dalam  Rapat Koordinasi Nasiona