Puisi

Dari Padang ke Batavia

nako di kamarku lama berdebu, Ajati
minta dibelas lekat tanganmu
tapi tanganmu tak raih tanganku dan tangannya
tanganku dan tangannya pun tak raih tanganmu

adakah kau benar di Batavia
setelah lama aku, Alina, dan Padang kau tinggalkan
tak berkirim surat agak sepucuk
sampai tak sejuk dihati tak senang dikira-kira

duapuluh empat purnama lamanya
kabar dari Batavia tak kunjung kuterima
sampai malam itu, sesak rinduku rindunya padamu
kubungkus kain dan cinta dengan pita aksara

; aku esok ke Batavia

Padang, 1 Januari 2017

Pergi

pagi itu aku pamit pergi
meninggalkan Padang entah sampai kapan lamanya
ibuku menggendong Alina
dan anak itu memanggilku sekali di pekarangan

kulihat air di matanya tak jatuh
air mata mereka
aku balik mendekat 
dan kukatakan pada anak itu, “ibumu pasti pulang, aku janji”

anak itu menjamah pipiku 
dan melekatkan tisu kepiluan dengan tangan mungilnya
kucium kening hangatnya yang berpeluh
tercium aroma pagi tubuhnya; mukamu dimukanya

;tunggu kepulanganku dan ibumu, Alina

Padang, 1 Januari 2017

Surat Cinta 
buat  Sri Ajati

dua hari dua malam kantukku tertanam
digoncang dihempas siang malam
dari jendela kaca tersingkap setengah
kubayangkan wajahmu yang merah, Alina

sampai aku di Batavia kakiku tercacah 
aku berdiri bersisian pada bangunan tua
aku sepi dikeramaian kata pujangga
yang berdiri tegak di atas menara 
sambil membacakan sajak Rendra

orang rami lalu-lalang, Ajati
putih mataku mencari ngkau; rupamu
tak ada ngkau; tak ada rupamu
hanya ada suara Alina menggema memanggil di telinga

kutulis surat cinta di atas selembar daun kamboja
lalu kulipat dua sampai tiga
tapi entah kepada siapa kutitipkan surat cinta 
sedang di sini aku tak punya siapa-siapa

Padang, 1 Januari 2017

Dari Batavia ke Padang

malam ini aku pulang ke Padang
hujan-hujan rinai kutempuh 
bukan karena aku kalah atau menyerah
bukan juga karena aku walah

enampuluh empat hari lamanya 
habis mataku dikebat Batavia
lenyai tulangku; kau menyuruk juga di lalang salai
    sampai hujan menderai-berai suratku yang itu
    ; kau biarkan mengigil kedinginan

    aku mengerti sekarang
    mengapa guruh kini telah jadikan hujan
    sebab langit dan bumi tak ingin menanggung malu
dan malam ini aku siapa kira, Ajati

aku mati Batavia
tanpamu, tanpa Alina

Padang, 1 Januari 2017

Berita Duka untuk Alina

anakku, Alina
liang malam cepat terkembang di Batavia
menyurukkanku dalam-dalam di dasarnya
tanpa sepengetahuan ibumu ibuku

terimalah berita duka ini dengan lapang dada
malam ini aku tak pulang
terbenam di Batavia untuk selamanya
dalam kasih yang tak pernah padam

dan bila suatu masa ibumu kembali, Alina
sampaikan bahwa aku pergi merantau ke Batavia
dan katakan kabar terakhir yang kau dengar
bahwa aku baik-baik saja

Padang, 1 Januari 2017

 

Cagak Utama

Asa Lai Indak Batuka Cigak Jo Baruk

Kaba si Iroih ka baralek jo urang nan pulang dari lua nagari manjadi&nb

Cerpen

Ia Sedang Menanti Kereta Uap Tuhan yang Membawanya ke Bulan

•1•

Apa benar Ibu ada di bulan, Ayah? Ia bertanya. Matanya masih

Kampus

Kuliah tidak Sekadar Mengejar Akademik

Akademik terdapat di lembaga pendidikan, universitas, institut dan sekolah. Biasanya, akademik be

Khasanah

Teks Maulid Nabi dalam Naskah-Naskah Karya Ulama Minangkabau

Empat dari Empat Tulisan

Pada masa awal perdebatan tentang “berdir

Paco - Paco

Si Minang Kritis: Yang didigulkan dan yang Kembali (1926, 1932)

Si Saidi atau Sidi gelar Pandéka Sati dan si Garak gelar Malim Pandjang jang diasingkan ke

Konsultasi

Melaporkan Pelaku Pungli

Bapak/Ibu pengasuh rubrik konsultasi hukum yang saya hormati. Saya Hanif. Saya ingin menanyak

Remaja

Kunang-kunang

Selalu tentang malam dan tenangnya malam 
Yang bangkitkan riuh memori-memori penuh ima