Cagak Utama

Padangpanjang Dimata Hamka

Pembicaraan terhadap Roman TKVW

Kapal Van der Wijck adalah nama sebuah kapal pada masa kolonial yang mengalami nasib naas di perairan Jawa. Dalam pelayarannya, kapal ini terbakar, kemudian tenggelam di laut Lamongan, Jawa Timur. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 20 Oktober 1936. Bagi Hamka, realitas tenggelamnya kapal Van der Wijck merupakan bahan mentah yang memberikan ide kreatif untuk menciptakan sebuah karya sastra, yakni roman.

Roman ini mulai diterbitkan pada tahun 1938 dengan judul “Tengelamnya Kapal Van der Wijck” (TKVW). Sejak penerbitan pertama roman ini sudah mengalami 26 kali cetakan ulang sampai tahun 2002. Hal ini membuktikan bahwa roman TKVW merupakan salah satu karya sastra yang cukup bernilai jika ditempatkan dalam dunia kesusastraan Indonesia.  

Cerita dalam roman TKVW dibangun dari pertengkaran dalam kaum, antara mamak dan kemenakan. Pendekar Sutan dan mamaknya, Datuak Mantari Labiah, terlibat percekcokan dalam masalah harta pusaka. Pendekar Sutan ingin menjual harta pusaka untuk keperluan biaya pernikahannya. Langkah ini diambil Pendekar Sutan karena mamaknya Mantari Labiah, sering kali menjual dan menggadai harta pusaka untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Keputusan Pendekar Sutan ini mendapat halangan dari Datuk Mantari Labiah. Pertengkaran di antara mereka kian memuncak dan memanas, yang berujung pada perkelahian. Dalam perkelahian, nasib naas berpihak pada Datuk Mantari Labiah. Ia tewas ditikam pisau belati kemenakannya sendiri.     

Akibat perbuatannya, Pendekar Sutan ditangkap Belanda, dan ketika Landrad bersidang di Padangpanjang, Pendekar Sutan dihukum buang selama 15 tahun. Ia dibuang ke penjara Cilacap, kemudian ke Tanah Bugis. Ketika terjadi Perang Bone, Belanda membawa Pendekar Sutan ikut berperang. Itulah sebabnya ia sampai di Makasar.

Sehabis masa hukumannya, Pendekar Sutan tidak berniat pulang ke kampung halamannya. Ia tetap tinggal di Makasar dan menumpang di rumah seorang tua keturunan bangsa Melayu. Melihat kelembutan hati dan budi pekertinya yang baik, orang tua tersebut tertarik dengan Pendekar Sutan. Ketertarikan itu diwujudkan orang tua tersebut dengan menikahkan Pendekar Sutan dengan anaknya, Daeng Habibah.

Dari hasil perkawinan mereka, lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Zainuddin. Sedari kecilnya, Zainuddin sudah menjadi yatim piatu. Ia diasuh dan dibesarkan oleh Mak Base, seorang perempuan yang berasal dari Bulukumba. 

Suatu ketika, Zainuddin menyampaikan niatnya kepada Mak Base untuk pergi ke kampung halaman ayahnya. Meskipun berat hati, Mak Base melepas kepergiannya. Keputusan dan kemauan Zainuddin yang kuat membuat Mak Base tidak dapat berbuat apa-apa. Sebagai bekal di perjalanan, Mak Base menyerahkan uang Rp2.000 kepada Zainuddin.

Uang tersebut dititipkan kepada Mk Base ketika maut akan menyemput ayahnya. Awalnya, uang tersebut berjumlah Rp1.000. Akan tetapi, berkat usaha Mak Base, uang Rp 1.000 dapat dikembangkan dengan cara perdagangan. Dengan tekad bulat, akhirnya Zainuddin berangkat juga ke kampung halaman ayahnya di Batipuh, Padang Panjang.

Menurut Zainuddin, Padangpanjang merupakan tempat yang cocok untuk menimba pengetahuan. Mengingat pada masa sebelum kemerdekaan, daerah ini sudah mengalami banyak kemajuan dalam berbagai bidang keilmuan, khususnya bidang keagamaan.

Sebagaimana yang dikatakan Audrey Kahin (2005) bahwa pada dekade awal abad 20, Padangpanjang merupakan daerah perlintasan utama bagi para saudagar yang membawa barang dagangan antardaerah (dataran tinggi dan pesisir) dan juga tempat perlintasan berbagai gagasan dan pemikiran tentang politik, agama, dan pendidikan. Di bidang politik, Padangpanjang juga merupakan salah satu tempat yang menjadi basis gerakan tokoh-tokoh politik di Minangkabau.   

Kemudian, di bidang agama dan pendidikan, Padangpanjang sangat dikenal sebagai tempat lahirnya Sumatera Thawalib, yakni sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang didukung oleh ulama-ulama masyhur di saat itu. Menurut Burhanuddin Daya (1990), ada beberapa surau yang sangat menunjang kelahiran Sumatera Thawalib, seperti Surau Batusangkar, Surau Sungai Batang Maninjau, Surau Parabek Bukittinggi, dan Surau Jembatan Besi Padangpanjang.

Menurut Hamka, Surau Jembatan Besi adalah milik Abdullah Ahmad (pendiri sekolah Adabiah School). Beliau dan Haji Rasul (ayah Hamka) mulai ikut mengajar pelajaran agama sekitar tahun 1904. Namun, Haji Rasul mulai menetap di Padang Panjang setelah wafatnya Haji Abdul Latief. Ia diminta oleh seluruh umat Islam di Padangpanjang untuk memimpin Surau Jembatan Besi. Namun, permintaan itu baru direstui oleh Haji Abdullah Ahmad pada tahun 1912. Di era kepemimpinan Haji Rasul ini Sumatera Thawalib mengalami banyak kemajuan.

Melihat cikal bakal lahirnya Sumatera Thawalib, sebenarnya Hamka ingin menyampaikan bahwa Padangpanjang sudah mulai bergerak memajukan dunia pendidikan dan keagamaan di Nusantara ini, khususnya Minangkabau. Di satu sisi, kepergian Zainuddin ke Padangpanjang merupakan sinyal yang diberikan Hamka bahwa dunia pendidikan dan keagamaan di luar Pulau Jawa sudah mulai bergairah untuk menciptakan generasi-generasi yang berpengetahuan di bidang keagamaan.

Di sisi lain, Hamka juga mengingatkan kita pada tokoh-tokoh pergerakan nasional bahwa pendidikan di Pulau Jawa selalu berada dalam pengawasan kolonial. Artinya, setiap gerakan antikolonial yang dimulai dari dunia pendidikan dan keagamaan pasti cepat diketahui pihak kolonial, mengingat pusat kekuatan kolonial pada saat itu berada di Pulau Jawa.

Oleh karena itu, salah satu cara memecah perhatian pihak kolonial dalam dunia pendidikan dan keagamaan adalah mendirikan pusat-pusat pendidikan dan keagamaan di luar Pulau Jawa.

Adanya silang budaya dalam roman TKVW mengisyaratkan bahwa untuk mencapai kemajuan pada saat itu, bangsa Indonesia harus menghilangkan rasa kesukuan yang berlebihan. Alasannya, saat roman ini diterbitkan, bangsa Indonesia masih berada dalam kekuasaan kolonial, yang selalu berupaya mengadu domba setiap etnis. Barangkali, pesan yang disampaikan Hamka melalui karyanya adalah tidak mungkin rakyat Indonesia mencapai kemerdekaan jika tiap-tiap etnis masih saling merendahkan adat etnis lainnya. (*)

Remaja

Rindu

Redup cahaya lampu kota 
Membuatku terbungkam dengan kesendirian
Nyanyian indah

Senja Kusam

Oleh: Trah W. Bulir air yang tergenang di atas daun tua Merefleksikan sisa-sisa kenangan kita D
Cagak Utama

Merajut Identitas Ketimuran Kita Lewat Karya

Tari Tonggak Raso Dan Tra.jec.to.ry

Prolog

Cuac

Ceria

Belajar Mewarnai

Tidak seperti hari biasanya, pagi itu Nanda sangat bahagia. Ia bersama mamanya akan per

Remaja

Tatapan Sendu

Tatapan Sendu

Tatapanku sendu setelah sampai di kamar
Kuhempaskan

The Jungle Book Adventure in The Jungle

Kemas Kartun Klasik dengan Animasi CGI Total Maraknya film remake lagi-lagi mena
Langkan

Meninjau Pola Asuh Bersama Menurut Kekerabatan Matrilineal Minangkabau

Sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau memiliki modal sosial dengan sistem dalam menguatkan k