Cerpen

Inilah Aku, Seekor Belalang di Atap Rumbia

Hamid keluar dari gubuk reotnya. Duduk di sehampar batu hitam yang ada di halaman, setelah meletakkan penyangga kayu di tanah—penyangga kayu yang sudah dua tahun menjadi ganti kaki kirinya setelah diamputasi. Sejenak ia tatap penyangga kayu itu dengan mata berkabut. Lalu ia menunduk muram ketika suara anak-anaknya terdengar gaduh, beradu mulut, lalu menangis karena saling berebut makan. Dan selebihnya dari gubuk bambu beratap rumbia itu terdengar suara perabot yang dilempar, bergemerincing dan bergedebuk, sebelum akhirnya terdengar suara seorang perempuan membentak-bentak, berpadu dengan suara isak tangis anak-anaknya, seperti perpaduan petir dan hujan.

“Salah kalian memilih takdir seperti ini. Punya ayah miskin dan tidak bisa menghidupi anak-anaknya dengan layak. Ayo diam! Makan apa adanya. Huh!!” suara perempuan itu berakhir dengan iringan suara nampan yang dihempas di atas meja kayu.

Senyap, kecuali letup isak mengetuk suasana. Dan perempuan itu kembali mengeluarkan suara petirnya. Di dalam gubuk itu, ia seperti sedang berpidato kepada anak-anaknya tentang ketidakbecusan sang suami—ketidakbecusan Hamid yang katanya kurang kerja keras.

Hamid sangat terpukul setiap kali mendengar sang istri memojokkan dirinya di depan anak-anaknya. Hampir setiap hari dirinya disebut-sebut sebagai ayah yang tidak becus dan tidak mau bekerja keras. Maka setiap kali Hamid bertemu dengan istri dan anak-anaknya, tiada sapa ramah walau sepatah kata, kecuali hanya ledekan “Lelaki tak berguna,”, “kutu busuk,”, “ayah ompong,”,”lelaki pemalas,” dan ledekan lain yang sangat menyakitkan.

Matahari beranjak siang dengan lentang cahaya silau rebah di atap rumbia. Angin pedusunan mengombakkan debu dan harum laru. Menggoyang helai-helai daun rumbia yang kerontang. Seekor belalang warna coklat hinggap di daun terung, tepat berada di samping Hamid. Seolah ia ingin menjadi teman yang baik untuk sama-sama berjuang mengalahkan kesedihan.

Hamid seperti orang putus asa, wajahnya semakin redup dan matanya terlihat lembap menampung tetes-tetes air kepedihan. Sejenak ia raba pangkal betisnya yang hanya tersisa satu senti di bawah lutut karena harus diamputasi. Entah mengapa istrinya masih menyebut-nyebut dirinya tidak bekerja keras, padahal ia menyaksikan sendiri bagaimana nasib Hamid yang harus diamputasi setelah mengalami kecelakaan saat menarik becak—saat dirinya bersikeras untuk membahagiakan keluarganya agar lepas dari jerat kemiskinan.

Hamid tak hirau cakar matahari siang mulai mencaruk tubuhnya. Kesedihan telah menenggelamkan dirinya ke dalam waktu yang mencekik. Ia hanya bisa menangis dan mengelus dada, bila dipikir secara mendalam, apa yang dikatakan istrinya ada benarnya juga; sudah dua tahun ia tidak bisa menghidupi keluarganya secara layak.

Hamid merasa dirinya sudah tak berguna dan tak pantas hidup menjadi manusia. Ia ingin melepas tubunya dan hendak pindah ke tubuh belalang seperti yang ia lihat di depannya. Betapa indahnya jadi belalang, terbang melompat dalam kebebasan, bercinta dengan pasangan tanpa harus ada beban tanggung jawab menghidupi anak-anak, hidup hanya butuh makan seadanya, tanpa harus berpakaian dan tempat tinggal.

Makanan pun sangat mudah didapatkan, cukup hanya dengan terbang dan melompat, pada ketiak tandan tumbuhan ada rezeki yang bisa langsung dilahap tanpa harus susah bekerja. Ya, Hamid ingin hidup yang gampang. Ia ingin jadi belalang.

“Karena menginginkan harta yang cukup tak kunjung tercapai, maka kali ini aku hanya ingin menjadi belalang saja, keinginan paling sederhana dari orang yang hina sepertiku,“ gumam Hamid sambil menyeka air mata ketika seekor belalang coklat terbang dan melompat ke sebuah batu.

Setelah berbulan-bulan Hamid melalui hidupnya dengan hanya memiliki satu keinginan untuk menjadi seekor belalang, pada akhirnya tiba juga waktu yang ia tunggu—waktu yang menjadi pintu bagi bergulirnya takdir ajaib itu. Pada suatu sore ketika Hamid dicerca habis-habisan oleh istrinya, ia melangkah tertatih-tatih dengan penyangga kayunya sambil menangis ke arah 300 meter dari gubuknya, dan berhenti di bawah pohon bidara.

Ketika tekanan batinnya memuncak, seekor belalang seketika datang dan menyemburkan cairan hitam ke tubuh Hamid. Lalu secara ajaib tubuh Hamid mengecil dan berubah menjadi seekor belalang. Belalang kecil berwarna coklat yang dengan enteng bisa bertengger manis di ujung penyangga kayu miliknya.

Hamid tersenyum riang ketika dirinya menjadi belalang; sebuah capaian sempurna dari sebuah cita-cita yang lama dirawat di dalam dada kecilnya. Ia merasa dunia belalang adalah dunia yang sunyi dari masalah, tidak rumit seperti dunia manusia. Tugasnya hanya mencari makan, tidur, buang kotoran dan kawin sesukanya tanpa harus repot mengurus anak.

Hamid mulai melompat-lompat, mencoba tubuh barunya, membuka sayap dan terbang pada jarak yang pendek, dari ranting ke daun, ke putik bunga dan menangkap seekor serangga sekaligus melahapmya di atas batu.

“Uwahh, sangat nikmat serangga ini melebihi nikmatnya ayam goreng. Rupanya Tuhan membagi nikmatNya di mana-mana,” ujarnya seraya terkekeh pada santapan terakhir, ketika kaki serangga itu terpotong mengeropos di bibirnya. Hamid menoleh ke arah serangga kecil lainnya yang mengurubungi sisi batu.

Ketika baru memulai ancang-ancang untuk menangkap lagi, tiba-tiba seekor belalang gendut dan kekar datang menyambar. Tubuh Hamid terkapar jatuh ke tanah. Ia rasakan sayatan pedih di punggungnya, sayatan yang memanjang karena duri kaki si belalang gendut yang tajam serupa pedang. Si belalang gendut berkacak pinggang dan tertawa terbahak-bahak.

“Hei.. kau ini belalang negeri mana? Berani-beraninya mengambil makanan di daerah kekuasaanku ini,” gertak si belalang gendut dengan lagak tubuh yang sombong. Hamid hanya bisa menatap tak berdaya, meraba luka punggungnya yang terus mengalir darah. Ia berandai; jika ia masih menjadi manusia, tentu dirinya akan merobek-robek tubuh belalang gendut itu hingga halus.

Tapi apalah daya, ia kini hanya seekeor belalang kecil tak berdaya. Tak ada jalan lain yang bisa dilakukan selain menghindar. Hamid tertatih menarik tubuhnya menjauh, dan luka di punggungnya terasa semakin sakit. Darah segar terus mengucur. Dan hari-hari setelah itu, ia merasa kelaparan karena tidak dapat mencari makan. Hamid menangis.

Setelah berhasil menyembuhkan luka di punggungnya, ia mulai belajar bercinta dengan para betina. Betina-betina itu sangat cantik, mereka mengaku berasal dari wilayah rerimbun akasia di lereng Bukit Awi. Hamid sangat mudah memikat hati betina-betina itu. Dari dua puluh betina itu sudah delapan belas yang telah ia setubuhi.

Tapi Hamid tak sepenuhnya bahagia, terutama ketika ia temukan para betina itu juga bersetubuh dengan pejantan lain di lembah Lentang, tepatnya di tangkup senyap pucuk-pucuk siwalan ketika pagi berkarib mendung. Hamid baru sadar bahwa dalam dunia belalang ternyata tak ada cinta yang sejati. Hamid benar-benar terpukul dengan kenyataan itu, terlebih setelah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri Si Devi, belalang manis bertubuh hijau yang selama ini jadi pujaan hatinya rupanya mau disetubuhi oleh Don, belalang coklat berkumis, yang berkali-kali membuat Devi klimaks di selembar daun kesambi. Setelah keduanya puas, Devi memeluk Don dengan mesra sambil berciuman, merapatkan bibir keduanya. “Ah! Jahanam,” Hamid kesal memukul kepalanya sendiri.

Hamid patah hati, sebatas diam menggesekkan sayapnya ke tandan pisang. Belum lagi ketika ia sadar perutnya masih kempes, tak secuil makanaan pun yang ia peroleh pagi itu, padahal perutnya sudah lapar sejak semalam. Belalang-belalang lain jauh lebih perkasa dari dirinya ketika berebut makanan. Hamid sangat menderita, terbersit dalam hatinya untuk kembali menjadi manusia.

“Maafkan hambaMu ini, Tuhan. Selama ini hamba selalu tidak puas atas ketentuanMu, dan selalu ingin lepas dari takdirmu serta beranggapan bahwa takdir yang lain terbebas dari masalah. Padahal masalah tetap ada ketika seorang hamba tidak memasrahkan hidupnya kepadaMu,” Hamid menangis. Kini ia rindu bentakan-bentakan istrinya, rindu ledekan anak-anaknya. Sepahit apa pun takdir manusia tetaplah indah, karena hidup manusia dinaungi sebuah norma.

Hamid mengepakkan sayap, pelan, terbang melintang angin dan hinggap di atas atap rumbia gubuk reotnya. Hamid berteriak memanggil anak dan istrinya, tapi sia-sia, mereka tak mendengar. Mareka tetap menumbuk jagung dalam lesung kayu. Hamid terus menangis sambil mengamati tubuhnya yang masih berupa belalang mungil, hingga tak terasa beberapa saat kemudian seekor burung cendet yang sejak dua bulan yang lalu mengintainya seketika datang menyambar. “bless!”. Hamid tak melihat apa-apa. Hitam. Pekat. Dan ia dengar bunyi sobekan daging tubuhnya dikunyah-kunyah paruh yang tajam. Sakit. (*)

Bungduwak, 24.11.16

*A. Warits Rovi - Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media Nasional dan lokal  antara lain: Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Majalah FEMINA, Tabloid Nova, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, dll. Ia juga Guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura. 

Remaja

Jika Aku Punya Sayap

Kupu-kupu berterbangan kian kemari Burung-burung menari indah mengibaskan sayapnya

Terbit

Hiburan

Arzeti Bilbina: Tak Kurangi Kegiatan

Bulan puasa tidak membuat Arzeti Bilbina mengurangi jadwal kegiatan. Setumpuk aktivitas di luar r

Cerpen

Rumah Pengembara

Ada rumah yang terpeta dalam ingatan—meski tak ingin diingat. Tapi sejak hari pertama menin

Cagak Utama

Peristiwa Budaya dalam Coretan Sketsa Body Dharma

Peristiwa Budaya berisikan keadaan rakyat, kebiasaan adat istiadat, cara hidup dan cara pandang,

Hiburan

Anggun dan Patung Lilinnya

Hayo... Mana yang Asli?

Anggun, 42, selama ini berdomisili di Paris, Pra

Menyapa Mu (lagi)

Aku tertawa pelan membaca buku yang baru saja kubeli, sebuah buku novel romance komedi. Aku menghela
Cagak Utama

Menyoal Lokus Nilai-nilai Estetis Dalam Teks Sastra

Untuk mengetahui keberadaan fakta-fakta estetis, diperlukan pemahanan, sudut pandang, para