CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Pengertian_Cagar_Budaya
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Cagak Utama

Pengertian Cagar Budaya

Penulis : Nurmatias - Balai Pelestarian Kepala Balai Cagar Budaya Sumatera Barat   

Cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jati diri bangsa dan kepentingan nasional. Untuk menjaga kelestarian benda cagar budaya diperlukan langkah pengaturan bagi penguasaan, pemilikan, penemuan, pencarian, perlindungan, pemeliharaan, pengelolaan, pemanfaatan, dan pengawasan cagar budaya. 

Cagar budaya pada saat ini sering kali diartikan sebagai “Pusaka Saujana Budaya”. Penyebutan demikian karena  cagar budaya termasuk ke dalam kelompok barang-barang atau benda-benda yang tergabung dalam pusaka saujana budaya. Apa yang kita ketahui tentang cagar budaya. Apakah benda purbakala, benda antik, benda arkeologi atau benda usang. Mungkin tidak semua orang tahu dan familiar dengan kata cagar budaya. 

Menurut undang-undang no 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. 

Cagar budaya tersebut mempunyai 5 kriteria berupa: Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.

Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.

Adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, dan/atau struktur cagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua situs cagar budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.

Dalam ilmu arkeologi bentuk peninggalan masa lalu ini dikenal dengan artefak adalah benda-benda masa lalu yang berhubungan dengan kehidupan manusia seperti tombak,candi,kapak batu, mesjid naskah, prasasti dan sebagainya. Ekofak adalah Benda alam yang ada relefansi (hubungan) dengan kehidupan manusia seperti tulang, fosil, kayu atau kotoran hewan dan manusia. Situs adalah lokasi ditemukannya benda arkeologi  

Pelestarian cagar budaya sangat diperlukan mengingat benda ini merupakan aset nasional yang dapat dipergunakan dalam jangka yang lama. Pelestarian benda cagar budaya berhubungan dengan kegiatan pemeliharaan, perlindungan, pengelolaan, dan pengembangan benda cagar budaya tersebut yang pada akhirnya ditujukan demi menarik minat wisatawan guna berkunjung ke daerah tempat benda cagar budaya tersebut berada.

Untuk apa kita melestarikan cagar budaya: a. Melestarian warisan budaya bangsa dan warisan umat manusia, b. Meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui cagar budaya, b memperkuat kepribadian bangsa,d. Meningkatkan kesejahteraan rakyat dan, e. Mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional Benda cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jati diri bangsa dan kepentingan nasional. Untuk menjaga kelestarian cagar budaya diperlukan langkah pengaturan bagi penguasaan, pemilikan, penemuan, pencarian, perlindungan, pemeliharaan, pengelolaan, pemanfaatan, dan pengawasan cagar budaya.

Untuk kepentingan perlindungan dan pelestarian  cagar budaya, baik mengenai penguasaan, pemilikan, pendaftaran, pengalihan, penemuan, pencarian, pemeliharaan maupun pemanfaatan benda cagar budaya dalam Peraturan Pemerintah ini senantiasa tetap memperhatikan hak dan kewajiban serta kepentingan pemilik ataupun masyarakat.

Menurut Adishakti (2003a:1), fenomena keanekaragaman dan keunikan cagar budaya yang dimiliki Indonesia ini menjadi perhatian terus menerus para pemerhati dan pelaku pelestarian dari berbagai daerah di Indonesia dan memicu banyak pertanyaan serta pemikiran kritis. 

Disadari pelestarian pusaka merupakan persoalan lintas ilmu, lintas sektor, dan lintas daerah. Sementara, kenyataan yang ada sangat memprihatinkan. Persoalannya, pelestarian cagara masih merupakan arogansi sektoral, keilmuan, bahkan dengan adanya otonomi daerah tumbuh menjadi arogansi daerah, dan yang paling memprihatinkan adalah justru cagar budaya dan pelestarian tidak terpedulikan.

Adapun kriteria cagar budaya tersebut adalah a. Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih, b. Mewakili masa gaya paling singkta berusia 50 (Lima Puluh) tahun, c. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, dan d. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.Segala bentuk upaya pelestarian sebenarnya hanya memiliki satu tujuan, yaitu melestarikan informasi yang melekat pada cagar budaya.

Undang-Undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya menjadi keharusan dan diharapkan menjadi energi baru dalam pelestarian cagar budaya yang selama ini ‘didominasi’ oleh pemerintah. Hal ini menjadi tantangan bagi pegiat pelestarian cagar budaya maupun pemerintah untuk memperjelas pengaturannya, setidaknya dalam peraturan lain di bawah Undang-Undang yang saat ini masih dalam pembahasan, seperti peraturan pemerintah, peraturan presiden, dan lain-lain. Harapannya, peraturan yang sifatnya mengatur kepentingan publik sebagaimana perubahan orientasi pelestarian, dapat benar-benar terwujud dan bermakna bagi pembangunan. 

Adapun langkah atau rekomendasi yang dapat untuk dilakukan ke depan dalam rangka membangun sinergisitas pelestarian cagar n budaya, yaitu: a.melakukan penguatan kapasitas masing-masing stakeholder baik masyarakat, swasta (pengusaha), dan lembaga pemerintah maupun legislatif terkait pelestarian cagar budaya bangsa. b. Mendorong partisipasi masyarakat untuk melestarikan cagar budaya bangsa, serta mendorong pemerintah untuk lebih transparan serta mampu berperan sebagai fasilitator dalam pelestarian cagar budaya bangsa. c. Melakukan penelitian secara intensif untuk mengungkap nilai yang terkandung dalam cagar budaya agar menambah pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Wassalam. (*)

Cagak Utama

Psikologi dan Filsafat dalam Sastra

Penulis : Donny Syofyan - Dosen Sastra Inggris FIB Unand

Disiplin studi sastra mengakomodasi berbagai subdisiplin ilmu. Di masa depan, karena dinamika zam

Cagak Utama

Orang Muda yang Berkesenian di "Rumah Teduh"

Penulis :

Malam itu, 27 Mei 2016 lalu, dalam Festival Musik Puisi 2016 yang digelar Taman Budaya Sumatera B

Remaja

Pahlevy Fadhil Bayaqu, Ke Jepang karena Prestasi

Penulis : Surya Purnama - Padang Ekspres

Pahlevy Fadhil Bayaqu terlahir dari keluarga olahragawan. Dimotivasi dari latar belakang itulah,

Kampus

Karya Sastra bukan Sekadar Puisi dan Cerpen

Penulis : Nite

HMJ Sastra Indonesia Unand Adakan Pekan Kritik Sastra

Himpunan Mahasiswa

Cagak Utama

Asa Lai Indak Batuka Cigak Jo Baruk

Penulis : Hakimah Rahmah S

Kaba si Iroih ka baralek jo urang nan pulang dari lua nagari manjadi&nb

Cerpen

Dosa Sosial Tuan Brown

Penulis : Iin Farliani

Grick duduk di kursi ukir. Tangannya mengapit cerutu dan sikunya ditumpukan pada lengan kursi. Pa

Kampus

Unand Tingkatkan Kualitas Satpam

Penulis : Tim Genta Andalas

Wakil Rektor (WR) II Unand, Asdi Agustar menyatakan, pihak rektorat akan meningkatkan fasilitas k